Maknai Hari Kemerdekaan Indonesia, Markandeya On Air Episode 1 Angkat Kisah Guru Non-ASN

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Bangli, markandeyabali.ac.id – Memaknai Hari Kemerdekaan Indonesia, BEM Universitas Markandeya (Undeya) bersama UKM Persmasika menggelar Markandeya On Air Episode 1 di Ruang Internasional Undeya, pada Senin (10/8). Mengusung tema “Merdeka atau Bertahan? Suara Guru Non-ASN di Balik Kemerdekaan Indonesia”, kegiatan tersebut menghadirkan kisah dan pengalaman guru Non-ASN dalam menjalani profesi pendidik di tengah berbagai tantangan.

Markandeya On Air Episode 1 menghadirkan Ida Bagus Ganta Mordita sebagai narasumber. Ganta membagikan pengalaman, perjalanan, dan perjuangannya sebagai guru Non-ASN, termasuk prosesnya terjun ke dunia pendidikan serta berbagai tantangan yang dihadapi selama menjalani profesi sebagai pendidik.

Ganta menceritakan perjalanan awalnya memasuki dunia pendidikan. Berbekal latar belakang Seni Musik dari ISI Denpasar, ia mengawali pengalaman mengajar melalui les gitar secara privat sebelum kemudian terjun sebagai pengajar musik di sekolah. Perjalanannya sebagai pendidik berlanjut melalui keterlibatannya dalam kegiatan ekstrakurikuler, seperti marching band dan musik.

“Berbagai pengalaman seperti mengajar les gitar secara privat, menjadi pengajar musik di sekolah hingga membina ekstrakurikuler marching band dan musik membuat saya melihat bahwa pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan penghasilan, pemenuhan kebutuhan, maupun status sosial. Saya menilai bahwa seseorang perlu menjalani pekerjaan yang sesuai dengan panggilan hati, termasuk ketika saya memilih profesi sebagai pendidik,” ungkap Ganta.

Pandangan tersebut menjadi bagian dari alasan Ganta tetap bertahan di dunia pendidikan. Ia menilai profesi guru tidak hanya berkaitan dengan status maupun pekerjaan secara administratif, tetapi juga membutuhkan ketulusan dalam memberikan ilmu kepada peserta didik. Pengalaman berinteraksi dengan siswa menjadi salah satu hal yang memperkuat pilihannya untuk terus berkontribusi sebagai pendidik.

“Saya menilai bahwa apresiasi yang kita diberikan kepada peserta didik tidak semata-mata dapat dilihat dari bentuk atau nilai pemberiannya, tetapi memiliki makna mendalam tentang penghargaan dan kenangan yang terbangun selama proses pembelajaran” ujarnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menjadi seorang pendidik tidak hanya membutuhkan kemampuan mengajar, tetapi juga ketulusan, kesabaran, dan kemauan untuk terus menjalani proses. Respons positif dari peserta didik menjadi salah satu hal yang memberikan semangat bagi Ganta untuk tetap berkontribusi dalam dunia pendidikan.
 

Markandeya On Air Episode 1 tidak hanya mengangkat kisah perjalanan seorang guru, tetapi juga mengajak mahasiswa memaknai Hari Kemerdekaan Indonesia melalui pengalaman seorang pendidik dalam menjalani profesinya. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa setiap profesi memiliki tantangan dan prosesnya masing-masing. Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan dari penjajahan, tetapi juga keberanian untuk menentukan pilihan, bertahan menghadapi tantangan, serta menjalani pekerjaan dengan tanggung jawab dan ketulusan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Menutup diskusi, Ganta menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar berani menentukan pilihan dalam menjalani perkuliahan dan mempersiapkan masa depan. Ia menekankan bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi sehingga mahasiswa perlu berani mengambil keputusan sekaligus bertanggung jawab atas keputusan tersebut.“Berani mengambil keputusan, berani mengambil risiko, dan pertanggungjawabkan pilihan kalian selama kuliah. Untuk hasil ke depannya, kita serahkan kepada yang diatas,” tutup Ganta.

Scroll to Top