
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Bangli, markandeyabali.ac.id — Eurasia Lecture Series 2026 resmi dibuka oleh Rektor Universitas Markandeya pada Senin (7/9) di Auditorium Graha Cendekia, Universitas Markandeya. Kegiatan yang diselenggarakan melalui kolaborasi Universitas Markandeya dan Eurasia Foundationini mengusung tema “Reimagining Multiculturalism: Harmonizing Local Wisdom for Global Citizenship” sebagai wadah dialog akademik untuk membahas keberagaman, kearifan lokal, dan kontribusinya dalam membangun masyarakat global yang harmonis.
Pembukaan Eurasia tersebut turut menghadirkan Ketua Yayasan Kresna Andhi Mandiri, Rektor Universitas Markandeya, Pejabat Struktural Universitas Markandeya, dosen, dan sobat cendekia Universitas Markandeya. Eurasia Lecture Series 2026 akan menghadirkan akademisi dari beragam bidang ilmu, mulai dari pendidikan, pertanian, hukum, ilmu komunikasi, hingga pariwisata. Rangkaian kegiatan tersebut akan berlangsung selama September hingga Desember 2026 dengan total 17 kali pertemuan.
Dr. I Wayan Numertayasa, S.Pd., M.Pd. selaku Rektor Universitas Markandeya menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam memperluas ruang pertukaran pengetahuan dan gagasan antarbangsa. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai tempat pembelajaran, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membangun jejaring akademik yang mempertemukan berbagai perspektif dan latar belakang budaya.
“Kolaborasi internasional menjadi penting karena perguruan tinggi tidak dapat berjalan sendiri. Melalui kolaborasi, kita dapat bertukar pengetahuan, pengalaman, dan perspektif dari berbagai negara. Perbedaan tersebut bukan menjadi batas, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun pemahaman yang lebih luas,” ujar Rektor Universitas Markandeya.
Beliau menjelaskan bahwa semangat tersebut sejalan dengan penyelenggaraan Eurasia Lecture Series 2026 sebagai mimbar akademik untuk mempertemukan gagasan lokal dengan perspektif global.
“Mimbar akademik seperti Eurasia Lecture Series ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan gagasan lokal dengan perspektif global. Menjadi warga dunia bukan berarti meninggalkan identitas dan budaya yang kita miliki. Justru dengan memahami dan menghargai kearifan lokal, kita dapat berkontribusi dalam membangun kehidupan global yang lebih harmonis,” tegasnya.
Ketua Panitia Eurasia Lecture Series 2026, Pande Agus Adiwijaya, S.Pd., M.Pd., mengatakan tema yang diusung menegaskan pentingnya menghargai keberagaman sebagai fondasi dalam menciptakan masyarakat yang damai dan harmonis. Menurutnya, multikulturalisme bukan tentang menyeragamkan perbedaan, melainkan menerima dan menghargai keberagaman yang ada sebagai kekuatan untuk membangun harmoni.
“Reimagining Multiculturalism menegaskan bahwa multikulturalisme bukan tentang penyeragaman, melainkan tentang menerima perbedaan. Kami percaya dari keberagaman itulah akan lahir harmoni,” ujar Ketua Panitia Eurasia Lecture Series 2026.
Lebih lanjut, Pande menjelaskan bahwa Local Wisdom and Culturally Responsive Education for Harmonious Societies menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan yang mampu merespons keberagaman budaya di masyarakat. Menurutnya, kearifan lokal tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber nilai dalam pendidikan untuk membantu peserta didik memahami perbedaan, menghargai keberagaman, dan membangun kehidupan bersama yang harmonis.
“Kearifan lokal memiliki nilai yang sangat penting dalam pendidikan. Melalui pendidikan yang responsif terhadap budaya, peserta didik dapat memahami lingkungan dan nilai-nilai yang hidup di masyarakatnya, sekaligus belajar menghargai perbedaan. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya membentuk pengetahuan, tetapi juga membangun kehidupan masyarakat yang harmonis tanpa harus kehilangan identitas budaya masing-masing,” tegas Pande.
Eurasia Lecture Series 2026 diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi nyata Universitas Markandeya bersama eurasia foundation dalam mendorong dialog akademik yang inklusif, serta memperkuat peran pendidikan tinggi dalam mewujudkan masyarakat multikultural yang harmonis.