
(Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Bangli, markandeyabali.ac.id – Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Pariwisata, Zita Anjani, S.Sos., M.Sc., secara resmi membuka Seminar Nasional bertema “Ekonomi Pariwisata Budaya: Sinergi Kearifan Lokal, Inovasi Generasi Muda, dan Ekonomi Kreatif Menuju Indonesia Berkelanjutan” yang ditandai dengan pemukulan kulkul sebagai simbol pembukaan acara. Seminar yang diselenggarakan melalui kolaborasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Markandeya, PC KMHDI Bangli, dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dharma Acarya (BEM FDA) Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar tersebut berlangsung di Auditorium Giri Prasta, Bangli, Minggu (12/7).
Seminar nasional tersebut turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya yang mewakili Gubernur Bali, Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, S.E., Prof. Dr. Ni Komang Sutriyanti, S.Ag., M.Pd.H. selaku Dekan Fakultas Darma Acarya yang mewaliki Rektor UHN I Guti Bagus Sugriwa Denpasar, Dr. Md. Andhi Supriatna Arna, S.H., M.H. selaku Wakil Rektor II yang mewakili Rektor Universitas Markandeya, dosen dari Universitas Markandeya dan UHN I Guti Bagus Sugriwa Denpasar, mahasiswa Universitas Markandeya, mahasiswa UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Kampus Bangli, serta kader PC KMHDI Bangli. Kegiatan ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya sinergi antara kearifan lokal, inovasi, dan ekonomi kreatif dalam mewujudkan pembangunan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.
Pada keynote speech bertajuk “Pariwisata Berkelanjutan dan Inovasi Generasi Muda: Artificial Intelligence for the Future of Tourism”, Zita Anjani menyampaikan bahwa Kabupaten Bangli memiliki potensi wisata yang sangat besar melalui kekayaan alam dan budaya yang dimiliki. Menurutnya, destinasi seperti Desa Penglipuran dan kawasan Kintamani telah menjadi ikon pariwisata yang dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Bangli memiliki potensi wisata yang luar biasa. Desa Penglipuran dan Kintamani merupakan destinasi yang sudah dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara. Potensi ini harus terus dijaga dan dikembangkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Zita Anjani.
Lebih lanjut, Zita Anjani menjelaskan bahwa pembangunan sektor pariwisata tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, melainkan juga pada kualitas wisatawan yang datang. Wisatawan yang berkualitas dinilai mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih besar sekaligus mendorong pelestarian budaya, lingkungan, dan kearifan lokal sebagai identitas daerah.
“Yang menjadi fokus bukan hanya jumlah wisatawan, tetapi kualitas wisatawan. Ketika masyarakat mampu menjaga kearifan lokal dan kelestarian budaya, manfaat ekonomi yang dirasakan juga akan semakin besar,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa pariwisata berkelanjutan merupakan strategi untuk meningkatkan kualitas destinasi sekaligus kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan inovasi dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dapat menjadi salah satu langkah dalam memperkuat daya saing sektor pariwisata Indonesia tanpa mengesampingkan nilai-nilai budaya lokal.
“Pariwisata berkelanjutan bukan hanya tentang menjaga destinasi wisata, tetapi juga memastikan masyarakat di sekitarnya memperoleh manfaat ekonomi. Inovasi dan teknologi, termasuk Artificial Intelligence, harus dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing pariwisata tanpa menghilangkan identitas budaya dan kearifan lokal,” tegas Zita Anjani.
Pada akhir sambutan, ia menyampaikan bahwa akan lahir gagasan dan kolaborasi nyata dari generasi muda dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya, kearifan lokal, dan inovasi.
“Saya berharap sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kemahasiswaan, dan generasi muda dapat terus terjalin dalam mewujudkan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan dan berdaya saing,” tutup Zita Anjani.